Ini Sejarah Lengkap Desa Grujugan dan Legenda Saktinya!

Legenda dan Sejarah Desa Grujugan Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen

Berdasarkan buku Babad Tanah Jawi karangan Y.B. Woterbeek ( 1912 ) disebutkan Tanah Jawa mengalami kebakaran hebat di beberapa tempat karena ingin membuat desa ladang , sawah , tegal , sebagai hunian dan menetap. Pembakaran ini paling banyak dataran rendah , tepi sungai , danau atau lembah, ini, lokasinya dari Jawa Tengah , Jawa Barat. Babad alas ini berlangsung sampai bertahun-tahun bahkan lebih tergantung luas area dan manusianya. Berdasarkan buku – buku History of Java Spring Up karangan Y.B. Guillot ( 1920 ) disebutkan Nederland Indie sebagai Negara agraris terbagi Agrarisor Tetap , Agrarisor Nomad ( pindah , mengembara ) dan petani penggarap dan buruh tani. Petani penggarap ingin tanahnya luas atau tambah , akhirnya babad alas roban trejadi dimana – mana.

Urut sewu adalah area pesisir selatan Jawa dari Parangtritis sampai Pengandaran dilakukan babad masaal dengan cara junggle law ( hukum hutan artinya siapa yang kuat , maka beliaulah yang mempunyai kuasa lahannya lebih luas). Orang kuat dan nekad atau brandal ini banyak berasal dari kidul wetan , Mirit , Ambal , dan sekitarnya. Kejadian ini berlangsung cukup lama dan penguasa di tempat tersebut .

Berdasarkan sejarah Jaka Sangkring , Jaka Puring, Pucang Kembar, nama – nama desa, jalan , gunung , tempat tertentu , mendapat julukan atau sebutan nama sepanjang tokoh – tokoh dari tiga Volks lore ( kisah rakyat ) tersebut.

Dalam abad ke XVIII yaitu sekitar tahun 1825 – 1830 M dalam sejarah terjadinya PERANG DIPANEGARA melawan penjajah di daerah Pulau Jawa.

Proses peperangan yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan para pembantunya yang sakti mandraguna, pemberani dan berwibawa dengan membawa senjatanya yang dimiliki antara lain tumbak, keris, cundrik ( keris yang kecil ), bambu runcing dan sebagainya. Cara peperangannya dilakukan dengan timing waktu yang tepat dan bergerilya serta strategi yang jitu untuk melawan para penjajah. Para pengikut Dipa Negara sewaktu di wilayah ini antara lain berdasarkan sejarah dan Tutur Tinular antara lain Kyai Mojo, Ki Tunggul Wulung yang menyamar ganti namanya Kyai Tunggul Wulung, Ki Singa Danu, Nyai Dewi Renges, Ki Tjakrantika, Ki Karyantika, Ki Pecut, Ki Lancing, Ki Dipa Jaya dan lainnya. Berdasarkan sejarah Ki tunggul Wulung mengembara dan meneruskan perjuangannya di daerah Jawa Timur tepatnya di daerah Malang dan sekitarnya, sedangkan Ki Lancing meneruskan perjuangan melawan penjajah di daerah Mirit kemudian Mbah Nyai Dewi Renges berjuang di daerah setempat ( Grujugan dan sekitarnya ). Oleh karena itu di tengah Desa Grujugan ada kuburan massal sebab imbas peperangan jaman dulu, termasuk di situ ada napak tilas Nyai Dewi Renges ( yang sekarang disebut Cungkub Keramat ) maka menjadi pepunden masyarakat desa yang turun temurun tepatnya berada di selatan lapangan Desa Grujugan.

Kemudian Mbah Kyai Mojo selaku Pengawal Dipanegara dengan kendaraan naik kuda putih kesayangannya tiba di Wilayah ini pada waktu Maghrib beliau akan menjalankan sholat Maghrib, tapi bingung mencari air wudlu disana sini tidak ada karena daerahnya cengkar ngentak-entak pada musim kemarau. Dengan ijin Allah SWT tongkat Kyai Mojo ditancapkan di bumi tersebut lalu dicabutlah tongkatnya maka keluarlah air yang memancar, cukup jernih dari tanah tersebut dan digunakan untuk berwudlu. Sampai saat sekarang sejarah memberi nama SUMUR MAJA yang tidak pernah kering airnya walaupun musim kemarau panjang. Maka sumur itu dikeramatkan sampai sekarang, dahulu yang menjadi juru kuncinya yaitu Mbah Eyang Ki Basin yang dipercaya untuk nguri-uri dan merawat sumur tersebut. Bukti sumur tersebut sampai saat ini pun masih ada dan tetap menjadi pepunden desa ini. Sedangkan juru kuncinya sudah berganti-ganti sampai beberapa generasi tahun demi tahun.

Alkisah Desa Grujugan ini merupakan desa di tepi sungai besar dan tanahnya subur. Babad alas roban melanda desa ini , ketika musim kemarau panjang dan angin kencang. Para pembabad alas saling berebut wilayah kekuasaan maka terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah tersebut banyak korban jadi disebut grojogan darah. Waktu kejadian tersebut tiba-tiba muncul harimau jadi-jadian yang dikejar-kejar warga tidak tertangkap karena saat itu hujan deras sekali dan kebakaran alas pada saat itu berhenti total. Mengingat gemrujugnya hujan yang sangat deras orang –orang tersebut berteriak grujug-grujug dan memberi nama “DESA GRUJUGAN “ oleh para pendahulu ( mengingat gemrujugnya darah karena peperangan para penguasa tersebut pembakaran hutan selesai ). Pembakaran hutan bermula dari arah selatan menuju ke utara makanya desa ini meluasnya ke utara.

Karena senangnya desa Lor Wetan Grujugan diberi nama Sidamulya, karena syukur ingin membangun utara desa disebut Banjar Winangun , karena lama mikir saja, prindang- prinding maka Lor Kulon desa disebut Kritig , waktu itu banyak wanita – wanita yang cantik maka disebut dukuh Padenokan. Mengingat program dan cita-citanya terwujud maka sebelah barat dinamakan desa Nampudadi. Berdasarkan batas wilayah desa tetangga maka bumi Desa Grujugan seluas 102 Ha. Dengan rincian Darat 27 Ha dan sawah 73 Ha, lain-lain 2 Ha seperti sungai dll.

Desa Grujugan telah lahir namun tokoh – tokoh saat itu memberi nama tiga dukuh ( Lead ) di wilayah desa tersebut.
1. Kemranggon sebab rumah-rumah di lokasi itu berbentuk pranggok.
2. Dukuh Karang Kemiri sebab saat itu daerah tersebut kebanyakan palawijanya kemiri .
 3. Dukuh Enthak sebab jarang pepohonan di daerah tersebut maka disebut ngentak-ngentak dan tanahnya cengkar , posisinya di pereng kali .

Nama-nama sawah itu juga ditetapkan :
a. Sebelah Timur desa antara lain Timahan, Jomblang, Widara .
b. Sebelah Selatan desa antara lain Cengklok , Sodor , Tugu , Pacing , Krapyak. Dinamakan Krapyak karena di daerah tersebut ada makam orang sakti di tengah-tengah sawah yang bernama Jaya Drana karena gugur dalam peperangan ketika menggembala kerbau .
c. Sebelah Barat desa antara lain Siwot , Siterong ,Si Krambil , Si Dadap, Si Beji, Tambahan, Kali Bata dan Gili Turi. Dinamakan Gili turi sebab kanan kiri jalan banyak terdapat pohon turi. Dinamakan Kali bata sebab dahulu ada sungai besar di tempat itu sebagai batas wilayah desa.
d. Sebelah Utara antaralain Si Resik , Siwayang, Si Kebo dan Si Serut .
Disebut Si Serut karena banyak pohon-pohon serut saat itu. Disebut Si Beji karena banyak sumurnya dan sumber airnya dangkal. Disebut Si Kebo karena tempat berkumpulnya para pengembala kerbau di situ dan sebagainya.

Berdasarkan sejarah tahun 1911 para penjajah Belanda yang tinggal di wilayah ini mengadakan kegiatan belajar mengajar dengan rakyat setempat hingga berdirilah bangunan gedung SEKOLAH RAKYAT atau SR dengan tenaga pengajar orang belanda dan sampai sekarang bangunannya juga masih ada dan menjadi milik yayasan Gereja Kristen Jawa Grujugan. Selain itu juga dibangun yayasan Lending atau tempat ibadah kaum Kristiani. Berkait jamaah pasamuan Gereja berkembang pesat sekitar awal tahun 1924 datang Pendeta dari Belanda ke desa ini bernama Ds. Vandick dan Ds. Bakker lalu merenovasi bangunan Gereja tersebut dan tepatnya tanggal 18 Juli 1928 bangunan GKJ ( Gereja Kristen Jawa ) ini diresmikan .

Desa ini ada kuburan massal di tengah desa sebab dahulu terjadi pertumpahan darah antara kelompok penguasa yang disebut kuburan BULUS PEPE. Ketika tahun 1949 - 1950 rakyat gotong royong kerja bakti ngurug sungai sebab Grujugan termasuk dataran rendah karena banyak sungai-sungai, untuk membuat kuburan baru yang dipimpin oleh Mbah Bardono , beliau seorang Kepala Sekolah SR asli keturunan dari Jogja dan paranormal yang winasis tahu persis dengan dunia klenik juga ahli dalam panca indra ke enam . Tahun itu juga kuburan yang lama dipindah ke kuburan yang baru secara simbolis. Bekas kuburan yang lama atau Bulus Pepe dibangun lapangan / alun-alun Desa Grujugan tepatnya tahun 1950 .

Kemudian pada Tahun 1956 berdirilah Masjid Al Ijtihad yang ditokohi oleh Kyai Syahroni dari Mendit dan Kyai Dimyati dari Jagasima yang disaksikan oleh Mbah Kyai Tusen dari Jagamertan dan Mbah Kyai Bajuri dari Kepadon dan yang mentauhidi kearah kiblat adalah Mbah Kyai Nawawi . Tahun 1966 di Dukuh Karangkemiri dibuat Langgar ceblok dabag widig atau dinding dari daun kelapa dengan Imam Kaki Lamin. Tahun 1983 direnovasi dan diberi nama Musolla Al – Amin oleh Sri Sugondo. Tahun 1999 Musolla Al-Amin , karena jamaahnya semakin ramai direnovasi dan jadi Masjid Safinatussalam yang artinya perahu keselamatan.

Kepemimpinan dan Pembangunan Desa Grujugan

Tahun 1911 Berdirinya Sekolah Rakyat /SR
Tahun 1920 Pemilihan Kepala Desa II (Terpilihnya : R Salam P )
Tahun 1924 Berdirinya GKJ Grujugan
Tahun 1946 Pemilihan Kepala Desa III ( Terpilihnya : W.Hardjowijoso )
Tahun 1950 Pembuatan Lapangan Desa
Tahun 1956 Berdirinya Masjid Al Ijtihad
Tahun 1985 Berdirinya SDN Inpres
Tahun 1987 Pemilihan Kepala Desa IV ( Terpilihnya : Bp.Sukirno )

Sumber:
RPJMDes 2014-2015 Desa Kewangunan